Oleh Sikha SV
Apakah arti menjadi seorang Hindu bagiku?" Demikian pertanyaan Sikha setelah dua tahun menemukan Jalan Dharma. "Saya
Benar-benar Merdeka! Jiwa Saya Bebas!" katanya. Memangnya selama ini jiwamu tidak bebas? "Ya, selama ini jiwa saya tidak bebas. Jiwa saya terkekang oleh penjara yang tak nampak, penjara yang paling ketat, penjara yang paling sulit ditembus - penjara pikiran saya sendiri."
Oleh Sikha SV
Apakah arti menjadi seorang Hindu bagiku?" Demikian pertanyaan Sikha setelah dua tahun menemukan Jalan Dharma. "Saya
Benar-benar Merdeka! Jiwa Saya Bebas!" katanya. Memangnya selama ini jiwamu tidak bebas? "Ya, selama ini jiwa saya tidak bebas. Jiwa saya terkekang oleh penjara yang tak nampak, penjara yang paling ketat, penjara yang paling sulit ditembus - penjara pikiran saya sendiri."
Pengantar Editor
Buku ini sebuah kisah nyata yang disajikan dalam bentuk novel. Ini cerita tentang Gentha Apritaura, seorang mahasiswi di Fakultas Kedokteran Universitas Arlangga, Surabaya. Kisah nyata pencarian Tuhan diawali dengan cerita dunia anak remaja, dengan teman kos, teman kuliah dan kisah cinta yang mendebarkan. Gentha menjalin cinta dengan seorang bos preman.
Dari sini ia mengalami hidup yang tidak biasa, bagi seorang gadis yang lahir dari keluarga baik-baik, mengikuti pendidikan pesantren Muhammadiah, sejak kecil di Madura. Muhammadiyah adalah penganut aliran wahabi, yang menolak setiap ritual yang berbau lokal: tidak membolehkan tahlilan, acara mengaji bersama pada hari ketiga, ketujuh, keseratus atau keseribu setelah tanggal kematian, untuk mendoakan arwah orang meninggal. Gentha bergaul dengan para psk, waria, penjabret, para preman anak buah pacarnya. Ketika pacarnya ditangkap dan ditahan di Polda Surabaya, karena kasus narkoba, Gentha memutuskan hubungan mereka. Ia ingin memulai hidup baru.
Gentha ingin mulai melakukan ibadahnya sebagai seorang muslimat, yang sudah lama diabaikannya. Tetapi ....
”Sholatku terasa hampa. Hampaaa sekali. Why? Ada apa ya? Aku berusaha menata kembali semuanya, serta berusaha mendekatkan diri lagi pada Allah. Tapi seperti ada rasa yang hilang. Kenapa, ya Allah? Apakah Engkau tidak berkenan padaku dengan apa yang kulakukan kemarin? Tapi aku sudah ingin berhenti…aku sudah dapatkan semua dan kini kurasa sudah cukup. Apakah Engkau tidak ingin memberiku kesempatan? Engkau seperti menolakku dengan menyusupkan rasa hampa dalam setiap ibadahku.
Kenapa, Tuhanku? Berilah aku petunjuk…”
Tetapi Allah tidak memberinya petunjuk. Bahkan tidak menjawabnya. Gentha lalu berdialog dengan dirinya sendiri. Ia mempertanyakan makna keberadaan, makna eksistensi di dunia ini? Apakah hanya untuk beribadah? Ia ingat firman Allahnya: ”Tiada Kuciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah pada-Ku.” ”Lha, kalau bagi umat lain, mereka juga punya cara ibadahnya masing-masing.
Apakah semuanya salah dan tidak berarti?”
Ia bertanya kepada Tuhannya, Allah SWT, bagaimana dengan orang-orang baik yang tidak beragama Islam? Bagaimana jika mereka tidak terlahir di keluarga Islam, tahu tentang adanya agama bernama Islam, tapi sudah merasa puas dengan agamanya sendiri sehingga mati dalam keadaan non-Islam?
”Engkau telah menciptakan dunia ini majemuk, kenapa hanya Islam saja yang Kau selamatkan? Kau Maha Tahu. Kau sudah tahu bahwa sebagian dari umat-Mu tidak akan memeluk Islam karena memang hidup di masyarakat non-Islam, tapi bukan berarti mereka jahat. Lantas untuk apa mereka semua diciptakan? Apa hanya untuk membuat dunia menjadi penuh lalu dibakar di neraka pada akhirnya? Tidakkah ini membuat kami menjadi sekadar mainan bagi-Mu?”
Ia merasa ada di jalan buntu. Mentok. Ia mulai mencari jawaban ke warnet. Browsing banyak materi diskusi online, artikel, wacana dan segala macam. Semua tulisan itu disimpan dalam flashdisk. Ada bahasan tentang Islam, Kristen, Buddha, Hindu, dan Baha’i. Sialnya, semua yang ditemukannya di artikel-artikel Islam bukannya memberi solusi, malah makin terlihat tidak sesuai dengan yang dipikirkannya.
”Bukan ini yang aku mau!”
”Yang banyak kutemukan malah konsep-konsep kekerasan, dengan mendengung-dengungkan kata ”kafir” segala macam. Biasanya dari dulu aku akrab dengan hal ini tapi tidak untuk kali ini! Ya ampun Tuhanku, please deh, jumlah manusia di dunia ini, lebih banyak yang kafir daripada yang beriman. Dan sebagian di antaranya tidak mungkin dapat disalahkan karena memang terlahir dalam masyarakat non-Islam. Dan apa pentingnya bagi mereka masuk Islam, jika mereka sudah cukup puas dengan agamanya sendiri?
Gentha mulai membuka file yang lain. Beberapa tentang Kristen, Hindu, Buddha dan Baha’i.
”Ajaran Kristen tidak terlalu menarik perhatianku. Aku tahu Kristen dan Katolik memiliki ekslusifitas yang sama dengan Islam. Tapi sebagai Islam, aku tahu di mana belok-beloknya Kristen. Sama seperti kitab Zabur dan Taurat, kitab Injil bahkan sudah tidak asli lagi dan status ke-Tuhan-an Yesus disahkan melalui sebuah konsili, bukan karena Yesus berkata ”Aku Tuhanmu”.
”Hu, seandainya pun aku harus murtad, aku emoh murtad ke Kristen, ga ada bedanya, yang ada malah tambah ngawur.” Batinku.
Gentha mempertimbangkan Bahai dan Buddha. Tapi ia tidak menemukan ”kletek” yang dicarinya. Sebetulnya yang diinginkannya hanya sebuah hal sederhana. ’Aku butuh pengakuan-Mu atas seluruh umat manusia. Aku butuh Engkau yang mau ngemong semua orang, semua makhluk. Aku butuh sesuatu dari-Mu yang dapat menghargai aspek kodrati manusia sebagai makhluk spiritual, tanpa mendiskriminasikannya lantaran ia beragama ini atau itu. Sebab aku yakin, ada satu sisi dari setiap hati yang memang terhubung
pada-Mu, tanpa terkotak-kotak oleh apapun, bahkan agama. Sisi hati itulah, yang mendorong setiap orang untuk berbuat mulia, mengikuti kata nuraninya.”
Tiba-tiba ia ingat pada cara sembahyangnya orang Bali yang mengandung unsur meditasi. Sajen, kain kebaya, dupa, patung-patung dewa, dan bunga kamboja yang terselip di telinga mereka...
”Mereka sebenarnya terlihat cantik dengan semua atribut itu, tapi bagiku malah terlihat seperti kunci-kunci yang akan menjebloskan
mereka semua ke neraka. Kalau perlu sekalian sama pulaunya.” Tapi ia terpesona dengan Gayatri mantra yang diunduhnya di internet. Video ini diputarnya berulang-ulang. ’Aku dan Gayatri itu seperti punya kencan setiap hari. Aku tidak bosan-bosan mendengarnya.’
Bulan puasa tiba. Bulan penuh rahmat. Semuanya dipermudah. Setan-setan dikurung, pintu sorga dibuka lebih lebar. Tapi Gentha tidak mampu menjalankan ibadahnya. Sholatnya kacau. Hatinya sakit, mendadak ia merasa begitu sedih. Sangat sedih...
Gentha harus menyampaikan hal ini kepada orang tuanya. Ia pulang ke Madura dengan rasa gamang.
”Sudah Ibu duga kamu mau pindah agama. Ibu dengar kamu tadi ngobrol sama Chika di kamar.” Ibunya berkata dengan nada dingin.
”Iya Bu, aku udah sampai di ujung.” Kata Gentha sambil menunduk. Tidak sanggup menatap mata ibunya.
Bapaknya menarik napas panjang.
”Memangnya sekarang kamu mau beragama apa?” Bapaknya bertanya.
”Hindu.” Jawabnya tukas. Cepat-cepat disambungnya,
”Aku sedang dalam pencarian, ijinkan aku mencari. Aku ga tau sampai kapan pencarian ini berujung. Tapi yang ada di benakku sekarang adalah Hindu. Aku percaya Tuhan itu ada, tapi aku mau mencari ajaran yang cocok.”
Gentha pelajari segala sesuatu tentang Hindu. Dari apa arti kata ”Hindu”, konsep ketuhanan di dalam Hindu sampai enam sistem filsafat Hindu (sad darsana). Lalu ia sampai pada satu sloka Bhagawad Gita:
“Aku tidak pernah iri dan selalu bersikap adil terhadap semua makhluk. Bagi-Ku tidak ada yang paling Ku-benci dan tidak ada yang paling Aku kasihi. Tetapi yang berbakti kepada-Ku, dia berada pada-Ku dan Aku bersamanya pula.” (Bhagavad Gita: IX, 29)
’Darahku berdesir. Sesuatu yang dingin terasa menjalar di ulu hatiku. Waktu terasa berhenti sejenak. Kubaca lagi kalimat itu. Aku tidak salah, perasaan sejuk tadi tidak salah, kupandang sloka pendek itu dengan setengah tak percaya. Ya Tuhan, ini dia. Ini dia! Inilah yang aku cari! Oh My God, Oh My God... Kusebut Ia berulang-ulang sampai akhirnya kusadari bahwa ini nyata!”
“Air mataku mengalir. Kebahagiaan menyeruak penuh, hatiku terasa seperti bara yang disiram air es. Terimakasih, Tuhan… Lalu aku
menangis, tangis paling bahagia yang pernah kurasakan…”
Ini sebuah kisah nyata, tentang pergulatan batin atau iman yang panjang dan menyakitkan. Pergulatan yang ditimbulkan oleh keinginan sendiri untuk meninggalkan tuhan kecil yang bermental kepala suku, yang lahir dari lingkungan keras, saling serang, saling jarah, saling curiga, saling membenci, yang menganggap setiap kelompok di luar sukunya sebagai musuh, yang harus ditundukkan atau ditiadakan, untuk menemukan Tuhan bagi alam semesta, yang bersikap sama bagi semua orang, tanpa perduli keturunan dan suku. Dan ia menemukan Tuhan itu melalui Bhagawad Gita. Dari pegulatan iman ini lahir pemikirannya yang dalam tentang agama,
Tuhan dan manusia, yang luar biasa untuk anak muda seumurnya, tapi semua itu disampaikan dengan bahasa gaul model Surabayan. Sekarang dia telah menemukan suara hatinya yang hilang. Saya berharap suara hati Gentha didengar oleh anak-anak muda yang lain, Hindu maupun non-Hindu. Agar di masa yang datang mereka mampu mewujudkan suatu masyarakat yang bebas dari kebencian dan lingkaran kekerasan, yang menerima perbedaan, hidup berdampingan secara damai di Nusantara yang kembali berjaya seperti zaman Majapahit.
Jakarta, 16 Juli 2011.